Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Pembagian Aqidah Sesuai Hukum Syara’ Dan Macam Macam Tingkatan Aqidah Serta Penyebabnya


Macam Macam Tingkatan Aqidah Serta Penyebabnya

Pada hakikatnya iman yang dimiliki seseorang tidak selalu sama atau mustahil untuk disama ratakan. Karena, setiap individu memiliki tingkatan aqidah tersendiri dalam memaknai suatu kepercayaan. Adapun aqidah dalam Islam ada tingkatan tertentu dihitung berdasarkan tingkat keimanan seseorang.
Aqidah islam
Aqidah islam

Macam-macam Tingkatan Aqidah
Pengertian aqidah tersendiri memiliki banyak sekali makna. Salah satunya secara bahasa, aqidah memiliki keterkaitan dengan kata aqada (Janji). 
Hal ini tentu membuat pemaknaannya berbeda–beda, namun sebagai manusia alangkah baiknya, harus menepati janji sebab berkaitan tentang iman dan taqwa seseorang. Adapun macam tingkatannya terdiri dari 4 jenis yakni:
  1. Tingkat Taqlid
Tingkat taqlid merupakan suatu tingkatan aqidah yang bersumber pada keyakinan berdasarkan atas pendapat orang lain tanpa memikirkan alasan di balik kepercayaan tersebut. Apabila mempercayai seseorang sebaiknya sebagai individu perlu menanyakan tentang keabsahan ucapan tersebut. 
Di dalam dunia fiqh sendiri kata “taqlid” memiliki makna mengikuti perkataan orang lain tanpa mengetahui hujjah atau dalil ketika digunakan olehnya. Adapun taqlid diperbolehkan bagi mereka yang tidak dapat mengambil ilmu langsung dari sumbernya. Ini untuk menghindari tingkah laku buruk dalam beriman. 
  1. Tingkat Ilmul Yaqin
Salah satu tingkatan dalam aqidah yang berdasarkan pada bukti bersumber secara jelas. Namun belum dapat menemukan hubungan kuat antara objek keyakinan serta dalil setelah memperolehnya. 
Akibatnya akan mengakibatkan pendapat tersebut mudah untuk disanggah oleh dalil-dalil lain ketika memiliki makna lebih rasional maupun mendalam. Ilmul yaqin juga dapat dianalogikan seperti (yaqin setelah menyelidikinya berdasarkan ilmu). 
Contohnya yaitu seseorang memiliki keyakinan masuk Islam setelah menelusuri sumber sumber Al-Qur’an dan Hadits dengan Ilmu pengetahuan. Membuat orang tersebut sudah mencapai tingkatan tersebut.
  1. Tingkat ‘ainul Yaqin
Level aqidah lebih tinggi dibanding sebelumnya. Tingkat keyakinan ini didasarkan atas sumber dalil–dalil rasional, ilmiah dan mendalam sehingga dapat membuktikan dengan bukti autentik. Selain itu, ketika seseorang sudah mencapai tingkatan ini mampu memberikan argumentasi secara rasional terhadap sanggahan orang lain.
Hal ini membuat seseorang yang telah mencapai tingkatan keyakinan ‘ainul Yaqin tidak dapat terkecoh oleh argumentasi bersumber oleh dalil-dalil lain. Maka dibuktikan dengan memberikan bukti secara rasional dan autentik untuk bertahan dari sanggahan orang lain.
  1. Tingkat Haqqul Yaqin
Suatu aqidah yang menyandang keyakinan tertinggi dibanding tingkatan lain. Tingkat keyakinan ini didasarkan dalam dalil–dalil rasional, ilmiah dan mendalam. Selain itu, dapat membuktikan antara objek kepercayaan secara masuk akal serta bersumber dengan jelas.
Tingkat haqqul yaqin juga dapat memberikan argumentasi secara rasional, sejalan dengan kehidupan masyarakat disekitarnya. Selain itu, selalu memiliki keterkaitan melalui pengalaman agamanya. Memberikan dampak tingkah laku manusia ketika sudah mencapai tingkatan ini, yaitu mempunyai akhlak mulia dalam kehidupan sehari–hari.
Penyebab Adanya Tingkatan Aqidah
Dalam mengimani suatu kepercayaan tentu tidak semata–mata langsung percaya secara instan. Proses untuk mencapai tingkatan keyakinan tertinggi harus melewati berbagai macam pengalaman. Hal ini tentu akan membuat suatu penyebab / alasan dibalik makna tersebut. Berikut beberapa di antaranya:
  1. Ilmu
Dalam suatu keyakinan (aqidah) seseorang tentu juga harus disokong oleh tingkat pemahaman terhadap ilmu. Berapapun besar kecilnya dalam proses menyerapnya tentu akan mempengaruhi seseorang untuk mencapai pada suatu tingkatan keyakinan. 
Normalnya semakin besar yang didapat, maka akan semakin kuat aqidahnya. Selain itu, Ilmu yang dikembangkan akan juga memberikan suatu kesan tertentu terhadap orang lain. Sebagaimana dalam masyarakat, apabila ada suatu individu memiliki tingkat keilmuan tinggi maka akan dipandang secara positif oleh lingkungan di sekitar.
  1. Dalil-Dalil
Menakar suatu keyakinan seseorang, tentu secara tidak langsung harus mengetahui dalil–dalil yang bersumber secara jelas. 
Di Islam sendiri sumber dalil secara nyata terdapat pada Al-Quran & Hadits. Akan tetapi, Anda juga harus mengetahui tingkat kesahih’an makna tersebut ketika menggunakan Hadits sebagai sumber aqidah. Sebab secara normatif masyarakat pada lingkungan sekitar selalu memandang suatu dalil secara nyata. 
Apabila menggunakan sumbernya tidak jelas, maka akan terjadi argumentasi. Pada akhirnya perilaku tersebut bisa saja akan memberikan suatu dampak negatif.
  1. Perilaku
Seperti yang sudah dijelaskan, bahwasanya aqidah itu ada kaitannya tentang tingkah laku sehingga bersifat aplikatif. Hal ini tentuk harus diaplikasikan kedalam segala bentuk serta macam aktifitas manusia. Perilaku menjadi parameter utama untuk menghitung tingkatan suatu keyakinan.
Terlihat secara jelas bahwa aqidah merupakan pendorong dari amal perbuatan baik. alasan tersebut dapat mendorong manusia ke dalam suatu perilaku sopan santun terhadap sesama umat. 
Salah satu contohnya, bila seseorang telah berada pada tingkatan haqul yaqin dapat dipastikan orang tersebut memiliki tingkah laku positif terhadap masyarakat disekitar.
Hal yang Mempengaruhi Tingkatan Aqidah
Lantas sebagai manusia di dunia, bagaimana cara untuk meningkatkan tingkat keyakinan dalam aqidah? Ini dapat dilakukan dengan mempelajari suatu hal berkaitan tentang rasa keimanan dalam beragama. Selain itu, ada beberapa tingkah laku yang perlu diaplikasikan seperti:
  1. Ilmiah
Saat Anda menginginkan suatu tingkatan keyakinan tertinggi. Perlu adanya tingkah laku ilmiah dalam menyikapi suatu ilmu. Sebab, perilaku tersebut dapat menghindari salah tafsir ketika mengkonsumsi pengetahuan khususnya dalil–dalil.
Sifat ilmiah tersebut tentu akan memberikan bukti nyata dalam amalan tingkah laku sehari–hari. Selain itu dapat membuktikan korelasi antara ilmu dan kehidupan secara masuk akal. 
Namun, perlu juga beradaptasi ketika mengajarkan nilai nilai tersebut pada beberapa masyarakat dengan tingkatan keyakinan di bawahnya.
  1. Sabar
Memaknai suatu kepercayaan dalam beragama akan memberikan tingkat kesabaran, ini berdasarkan kepada tingkatan aqidah yang telah dirasakan suatu individu. Sebab bermanfaat untuk memberikan suatu dampak positif dalam menyikapi suatu masalah.
Masalah tersebut seakan lebih mudah, karena dibarengi dengan kesabaran yang tinggi. Selain itu aqidah juga memiliki peranan dalam mengatur pola pikir suatu individu. Hal ini tentu akan selalu membuat suatu visi jalan hidup secara positif, selain itu dapat meningkatkan kesabaran ketika mengalami suatu masalah.
  1. Ikhlas
Mindset Aqidah yang tertanam dalam suatu individu seorang muslim, akan selalu menghadirkan dirinya dalam pengawasan Allah SWT. Anda perlu senantiasa mempunyai rasa ikhlas. Sebab, sifat tersebut tentu sangat bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari.
Umpamanya sifat tersebut mempunyai suatu peranan penting dalam menghadapi suatu masalah. Secara normatif sebagai manusia yang beragama Islam tentu harus memiliki rasa ikhlas. Karena bertujuan untuk menghindari dari emosi buruk ketika mengalami masalah kehidupan.
  1. Argumentasi Kuat
Dalam memaknai suatu keyakinan perlu juga mencapai suatu kesimpulan. Hal tersebut tentu harus memiliki nilai argumentasi yang kuat. Karena akan selalu menghindari perdebatan ketika disanggah oleh suatu sebab lainnya. 
Untuk mencapai argumentasi yang kuat, perlu menemukan hubungan korelasi secara logis antara ilmu dan kehidupan sehari–hari. Dengan mengetahui kedua hal tersebut tentu akan dapat memberikan suatu bukti secara jelas dan autentik. Namun, perlu juga mengetahui nilai keislaman di baliknya.
Demikian pembahasan tentang tingkatan aqidah serta penyebab tingkat keyakinan tersebut terjadi. Semoga Anda dapat menjalani kehidupan secara yakin dalam beragama. Selain itu, alangkah baiknya dapat mengamalkan nilai-nilai di atas sehari-hari
Pembagian Aqidah Sesuai Hukum Syara’
Dalam Islam terdapat beberapa pembagian aqidah yang telah disepakati oleh ulama. Hal tersebut juga didasarkan atas firman Allah dalam Al Qur’an. Masalah ini oleh umat muslim di anggap sebagai sesuatu pemahaman dalam menempuh jalan kebenaran dengan pendapat.
Pembagian Aqidah Tauhid
Aqidah adalah sesuatu yang mendasar atau hal penting yang harus dimiliki oleh setiap umat muslim. Bisa dikatakan jika ia merupakan fondasi kokohnya sebuah iman. Adanya pemahaman tentang ini akan memberikan pengertian bagi setiap manusia.
Bahkan bukan hanya Islam saja. Akan tetapi, setiap ideolgi memang harus memiliki aqidah, hanya saja pemahaman serta penerapannya tentu akan berbeda. Begitu pula dengan Islam, begitu ia mengucapkan syahadat, maka sudah dikatakan telah memilki aqidah Islamiyah.
Adanya aqidah akan memberikan pemikiran dan pemahaman kepada seseorang mengenai Islam secara kaffah. Kemudian, di sini juga terdapat beberapa pembagian yang telah disepakati oleh para ulama, yaitu terdapat 3 macam tauhid.
Tauhid Al-Uluhiyyah
Salah satu jenis pembagian aqidah adalah tauhid al-uluhiyyah. Menurut Syaikh Shalih bin Abdul Aziz alu Syaikh, beliau menerangkan jika uluhiyah merupakan sebuah penyembahan yang disertai rasa cinta dan pengagungan. Berikut penjelasannya:
  1. Makna Tauhid Uluhiyyah
Apabila di dalami lebih lagi, maka uluhiyyah ini bermakna sebagai bentuk pengesaan terhadap Allah yang ditunjukkan melalui ibadah hamba. Misalnya saja dengan menerapkan do’a, istighotsah atau memohon keselamatan, bernadzar, menyembelih dan masih banyak lagi.
Maka, dari sini dapat dipahami pula bahwa tiada Tuhan melainkan Allah yang berasal dari kalimat syahadat laa ilaha illallah. Hal ini juga tertera dalam Al ‘ Qur’an Surat al- Hajj ayat 62 dan al-Baqarah ayat 163.
  1. Kata Orang Musyrik
Hal ini pula yang telah dijelaskan dalam Al-Qur’an mengenai respon orang-orang musyrik ketika ia mendengar dakwah yang dibawa oleh Rasulullah SAW mengenai kalimat tauhid sebagai penerapan dari Ulihiyyah.
Bahwa golongan mereka akan terheran-heran apabila sesuatu yang mereka yakini tentang Tuhan itu banyak. Namun, oleh Rasulullah SAW dikatakan jika hanya terdapat satu saja Tuhan yang wajib disembah dan tidak lain itu adalah Allah.
Kisah ini tertera dengan jelas di dalam Al-Qur’an surat Shaad ayat 5 dan ash – Shaffat ayat 35 – 36. Di sana dimaknai bahwa orang-orang musyrik akan keberatan jika harus menerapkan ibadah-ibadah dengan mengakui hanya ada satu Tuhan saja.
  1. Kesalahpahaman
Meskipun demikian, aqidah Ulihiyyah yang menyatakan keesaan hanya dimilki Allah dan ditunjukkan melalui ibadah ini faktanya masih banyak kesalahpahaman. Masalah ini muncul di kalangan para Mutakallimin atau filsafat, Asya’irah dan Mu’tazilah.
Syahadat yang merupakan landasan beraqidah ini oleh mereka dimaknai sebagai sesuatu yang berkuasa, atau pencipat. Sedangkan makna laa illaha illallah yang benar merupakan tiada sesembahan melainkan Allah saja.
Tauhid Ar-Rububiyyah
Sebenarnya tauhid al – Uluhiyyah dan ar- Rububiyyah merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Namun, jenis ini terdapat perbedaan cakupan yang diyakini oleh ahlusunnah wal jamaah. Untuk lebih jelasnya, perhatikan ulasan berikut:
  1. Makna
Secara makna tauhid ar-Rububiyyah diartikan sebagai salah bentuk mengimani keesaan-Nya dan bahwa Allah itu ada melalui perbuatannya. Kemudian juga beranggapan jika segala sesuatunya yang diperoleh manusia berupa rezeki, umur dan sebagainya berasal dari Sang Pencipta.
Ada banyak terdapat dalil yang menyatakan tentang penetapan Rububiyyah Allah Azza wa Jalla terhadap manusia. Yakni jika semua nash terdapat penyebutan ar-Rabb disebutkan bahwa hal tersebut merupakan pengukhususan terhadap aqidah jenis ini.
  1. Cakupan A- Rububiyah
Cakupan yang terdapat dalam ar-Rububiyyah ini terdapat dua hal. Pertama, yaitu mengimani segala sesuatu tentang Allah termasuk keberadaan-Nya. Kedua, bahwa Allah merupakan al-Khaliq atau pencipta, pemilik serta pemberi rezeki.
Dalam aqidah Rububiyyah ini menjelaskan jika yang mereka percayai adalah Allah berkuasa atas segala seuatu yang ada di bumi. Termasuk dalam hal menghidupkan serta mematikan, memberi manfaat, mengabulkan doa dan sejenisnya.
  1. Perintah Memikirkan Ayat Allah
Dalam ar- Rububiyyah perintah untuk memikirkan ayat-ayat Allah ditunjukkan pada tanda-tanda kekuasaan-Nya. Misalnya saja susunan anggota tubuh manusia yang terdapat hikmah di setiap fungsi dan peletakannya.
Kemudian juga dapat diperhatikan dalam berbagai fenomena lain seperti pencipataan makhluk-Nya, segala sesuatu yang ada di bumi berupa perbuatan, keputusan dan sebagainya. Itulah perbedaan pada rububiyyah dengan lainnya.
  1. Pengakuan Ar-Rububiyyah
Pengakuan terhadap ar-Rububiyyah saja di sini tidaklah cukup untuk bisa dikatakan bahwa seseorang tersebut memeluk Islam. Pada faktanya masih banyak yang keliru dalam memahaminya, karena pada zaman dahulu orang-orang juga banyak mengakui aqidah ini.
Hanya saja terdapat penyimpangan dengan menyekutukan Allah dalam tauhid uluhiyyah. Contohnya saja dengan mengaplikasikan berbagai macam ibadah dan doa, namun dipersembahkan kepada selain-Nya, padahal mereka mengakui bahwa Tuhan itu satu.
Tauhid Al-Asma’ wa-Sifat
Tauhid Asma wa Sifat ini diartikan sebagai bentuk pengakuan hamba kepada Tuhannya melalui nama dan sifat Allah. Hal ini juga disertai dengan mengimani al-kitab, as-sunnah, beserta makna dan hukum di dalamnya yaitu:
  1. Tahrif
Tahrif merupakan suatu bentuk penyimpangan makna pada suatu kalimat atau kata. Dalam hal ini menyimpang yang dimaksud adalah nama maupun sifat Allah diubah artinya tanpa dalil yang menyertai.
Salah satu contohnya adalah sifat Allah istimewa atau bersemayam diselewengkan menjadi istaula atau menguasai. Kemudian kemarahan-Nya juga salah diartikan menjadi keinginan untuk menghukum dan sebagianya.
  1. Ta’thil
Ta’thil atau menolak adalah sikap tidak mau mengakui adanya penetapan nama dan sifat Allah yang terdapat di dalam dalil. Misalnya penolakan keseluruhan oleh sekte Jahmiyah, mereka menyatakan jika siapa saja berani memberikan sifat dan nama untuk-Nya dikatakan sebagai musyrik.
Sedangkan penolakan sebagian ini dilakukan oleh Asy;ariyah atau Asya’irah. Mereka menetapkan jika sifat Allah itu hanya terdapat beberapa saja yang perlu diyakini dan lainnya ditolak atau tidak mau mengakui.
  1. Takyif
Takyif merupakan suatu bentuk penyimpangan yang dilakukan suatu kelompok dengan berusaha menggambarkan bentuk dan hakikat nama serta sifat Allah. Hal ini dilakukan sebagai upaya memberikan penjelasan supaya berpikir jika al-Khaliq itu berbentuk dan nyata adanya.
Misalnya dengan mendeskripsikan jika tangan Allah itu bulat, dengan panjang dan ruasnya sekian. Serta menjelaskan jika al-Khaliq itu sedemikian rupa. Tentu, pernyataan ini merupakan bentuk yang tak patut diikuti karena sebagai hamba hanya wajib mengimani tetapi dilarang menggambarkanya.
  1. Tamtsil
Tamtsil dikatakan sebagai suatu bentuk atau usaha untuk menyamakan Allah dengan hamba-Nya. Sebenarnya hal ini tidak jauh berbeda dengna takyif. Hanya saja dalam hal ini lebih spesifik bahwa al-Khaliq menyerupai si fulan atau fulani.
Contohnya dengan penggambaran bahwa bentuk Allah mirip fulan. Tangannya sedemikian rupa dan sebagainya. Kemudian juga membayangkan jika Allah bersemayam di arsy seperti naik kuda.
Demikianlah penjelasan mengenai pembagian aqidah yang harus dipahami oleh setiap muslim. Tentu hal ini sebagai upaya untuk memahami Islam lebih dalam sehingga tidak terjadi penyimpangan.


Post a Comment for "Pembagian Aqidah Sesuai Hukum Syara’ Dan Macam Macam Tingkatan Aqidah Serta Penyebabnya"